Biografi Syafruddin Prawiranegara

Biografi Syafruddin Prawiranegara

Syafruddin Prawiranegara dalam ejaan lama yaitu Sjafruddin Prawiranegara. Ia merupakan salah satu pejuang di masa kemerdekaan RI. Syafruddin pernah pula menjabat sebagai Ketua/Presiden PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) di saat pemerintahan RI yang bermarkas di Yogyakarta sedang jatuh ketika Agresi Militer penjajah Belanda II tanggal 19 bulan Desember tahun 1948.

Sebelum Sjafruddin terlibat menjadi salah satu tokoh nasional, ia pernah bekerja menjadi pegawai di radio swasta. Selain itu, pernah menjadi pegawai di departemen Keuangan colonial Belanda, serta menjadi pegawai di departemen keuangan penjajah Jepang.

Masa Muda Syafruddin Prawiranegara

kecil yaitu Kuding yang diambil dari Udin pada Syariffudin. Pria yang memiliki darah Sunda dari ibunya dan Sunda-Minangkabau dari ayahnya. Ayah Syafruddin adalah seorang jaksa yang cukup merakyat, lalu colonial Belanda membuang ayahnya Syafruddin ke Provinsi Jawa Timur.

Buyutnya Syariffudin dari pihak ayahnya adalah Sutan Alam Intan yang merupakan keturunan raja Pagaruyung – Sumatera Barat. Dahulu buyutnya dibuang ke Provinsi Banten disebabkan keterlibatannya dalam Perang Padri.

Syafruddin pernah menempuh pendidikan di ELS pada tahun 1925. Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke MULO Madiun tahun 1928, lalu ke AMS Bandung tahun 1931. Pendidikan tinggi Syafruddin tahun 1939 diambil di Rechtshogeschool yakni Sekolah Tinggi Ilmu Hukum di Jakarta yang saat ini merupakan Fakultas Hukum di Univesitas Indonesia.

Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga mendapatkan gelar Meester in de Rechten, yang sekarang setara dengan gelar Magister Hukum. Sebelum terlibat sebagai tokoh nasional, Syafruddin Prawiranegara pernah bekerja sebagai pegawai radio swasta, pegawai di departemen Keuangan colonial Belanda, dan menjadi pegawai di departemen keuangan pada masa penjajahan Jepang.

Presiden PDRI selama 207 Hari

Setelah proklamsi Indonesia, Syafruddin di KNIP menjadi anggota yang tugasnya sebagai legislatif sebelum terbentuk DPR dan MPR. KNIP dengan kekuasaan legislatif-nya ikut menetapkan GBHN (Garis Besar Haluan Negara). Kemudian Syafrudin Prawiranegara diangkat menjadi Menteri Kemakmuran.

Pada 19 Desember tahun 1948, terjadi Agresi Militer II colonial Belanda terhadap Yogyakarta yang masa itu menjadi Ibu Kota dan menyebabkan tertangkapnya Presiden Sukarno. Sedangkan Mohammad Hatta yang saat itu menjadi Wakil Presiden, merasa cemas lalu mengirimkan telegram pada Menteri Kemakmuran yang sedang di Bukittinggi dalam rangka pembentukan Pemerintahan Darurat (PDRI).

Selain pada Syafruddin – Menteri Kemakmuran, Telegram juga dikirimkan pada LN Palar, dr Sudarsono, dan AA Maramis yang sedang berada di New Delhi dalam rangka pembentukan PDRI cadangan, bila usaha Syafruddin gagal di wilayah Sumatera Barat.

Setelah berdiskusi termasuk mengenai masalah hukum sebab tak ada mandat, akhirnya terbentuklah pemerintahan darurat yang dipimpin Syafrudin Prawiranegara dan wakilnya adalah TM Hasan. Atas usaha yang dilakukan Pemerintaha Darurat, maka Belanda terpaksa melakukan perundingan dengan Indonesia.

Perjanjian Roem Royen berhasil mengakhiri usaha Belanda, lalu Soekarno dibebaskan dan kembali ke D.I Yogyakarta. Juli 1949 sidang antara Presiden Sukarno dengan PDRI diadakan, lalu dilakukan serah terima untuk pengembalian mandat pemimpin negara ke tangan Soekarno.

Memegang Sejumlah Jabatan di pemerintahan

Setelah menyerahkan lagi kekuasaan Pemerintahan pada Soekarno, Syafrudin Prawiranegara menjabat Wakil PM (Perdana Menteri) tahun 1949, lalumenjadi Menteri Keuangan hingga tahun 1950. Maret 1950 Syafruddin melaksanakan pemotongan mata uang nilai 5 lebih hingga nilainya tersisa separuhnya. Kebijakan moneter poker online yang diambil Syafruddin banyak dikritik sehingga ia dijuluki Gunting Syafruddin

Setelah menyerahkan lagi kekuasaan Pemerintahan pada Soekarno, Syafrudin Prawiranegara menjabat Wakil PM (Perdana Menteri) tahun 1949, lalumenjadi Menteri Keuangan hingga tahun 1950. Maret 1950 Syafruddin melaksanakan pemotongan mata uang nilai 5 lebih hingga nilainya tersisa separuhnya. Kebijakan moneter yang diambil Syafruddin banyak dikritik sehingga ia dijuluki Gunting Syafruddin

Kemudian ia menjabat Gubernur BI yang pertama tahun 1951, dan Sebelumnya Syafruddin merupakan PresDir Javasche Bank, kemudian berubah jadi Bank Indonesia.

Masa Tua Syafruddin Prawiranegara

Tokoh nasional ini memilih berdakwah sebagai kesibukannya di masa tua. Akan tetapi, berkali-kali mantan anggota Partai Masyumi tersebut dilarang untuk naik mimbar. Juni 1985, Syafruddin diperiksa sehubungan isi khotbahnya di Tanjung Priok – Jakarta pada hari Idul Fitri di masjid Al-A’raf.

Dalam aktivitas dakwahnya, Syafrudin Prawiranegara pernah menjadi Ketua KMI (Korp Mubalig Indonesia). Kegiatan-kegiatan Syafruddin berkaitan dakwah, pendidikan dan keislaman. Ia sempat pula menyusun sebuah buku Sejarah mengenai Moneter yang dibantu Oei Beng To.

Rumah Tangga Syafruddin Prawiranegara

Syafruddin menikahi wanita berdarah Aceh yang bernama Tengku Halimah Syehabuddin. Ia dan istrinya memiliki 8 orang anak, kemudian memiliki sekitar 15 cucu. Seorang cucunya yang ke- 13 lahir di Negara Australia karena menjalani proses bayi tabung. Dan cucu Syafruddin merupakan bayi tabung yang pertama dari pasangan suami istri asal Indonesia tahun 1981.

Penghargaan Syafruddin Prawiranegara

Syafruddin Prawiranegara meninggal dunia di Jakarta, 15 Februari tahun 1989, di usia 77 tahun. Segala jasa-jasanya pada bangsa tentunya tak dipandang sebelah mata oleh Negara. Tahun 2011, Syafruddin mendapatkan anugerah gelar sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keppres No. 113/TK/2011.