Presiden Kedua Republik Indonesia, Soeharto

Soeharto

Jenderal Besar TNI (Purn.) H. M. Soeharto lahir di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni tahun 1921. Presiden ke-2 Republik Indonesia ini wafat di Jakarta pada tanggal 27 Januari tahun 2008. Beliau meninggal di umur 87 tahun sesudah dirawat di RSPP Jakarta.

Masa Muda Soeharto

Orang tuanya bernama Kertosudiro (ayah) dan Sukirah (ibu). Ayah beliau merupakan pembantu lurah di bidang pengairan persawahan sekaligus petani. Ketika berumur 8 tahun, Soeharto mulai mengenyam bangku sekolahPada awalnya ia bersekolah di SD (Sekolah Desa) Puluhan Godean, kemudian pindah ke SD (Sekolah Desa) Pedes karena keluarganya pindah tempat tinggal ke Kemusuk.

Setelah itu, ia bersekolah di Wuryantoro dan dititipkan tinggal bersama mantri Tani bernama Prawirohardjo yang menikahi adik perempuannya Soeharto. Cita-citanya sejak kecil untuk menjadi tentara diusahakan dengan melanjutkan pendidikan ke sekolah militer. Tahun 1941 saat Sekolah Bintara, Jawa Tengah, ia terpilih menjadi Prajurit Teladan. Tanggal 5 bulan Oktober tahun 1945, ia resmi diangkat sebagai anggota TNI.

Pernikahan

Di usia 26 tahun Soeharto menikahi putrinya seorang Mangkunegaran, bernama Siti Hartinah (Ibu Tien Soeharto) yang pada saat itu ibu Tien berusia 24 tahun. Mereka menikah pada 27 Desember tahun 1947. Dari pernikahan mereka dikarunia 6 orang anak yakni Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Masa Kemiliteran

Untuk merintis kariernya di kemiliteran, Soeharto harus menempuh jalan panjang dengan memulainya dari pangkat sersan di satuan tentara KNIL. Kemudian ia menjadi Komandan PETA di masa penjajahan Jepang. Selanjutnya ia menjabat komandan resimen dengan pangkat mayor dan kemudian dipercaya sebagai komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Sejarah Indonesia tak bisa lepas dari peristiwa Serangan Umum tanggal 1 Maret tahun 1949, kala itu merupakan peristiwa penting dalam catatan sejarah bangsa. Banyak versi sejarah mengatakan bahwa Soeharto berperan ketika usaha merebut Yogyakarta kembali yang pada waktu itu menjadi Ibukota RI. Pada 1 Maret tersebut, dalam kepemimpinan Soeharto Yogyakarta berhasil direbut kembali dari cengkraman para penjajah Belanda.

Beliau juga pernah menjadi pengawal bagi Panglima Besar Jenderal Sudirman. Sedangkan dalam operasi militer pembebasan Irian Barat yang saat itu tangan Belanda, beliau menjabat sebagai panglima Mandala dan dipusatkan di Kota Makassar.

Peristiwa G-30-S/PKI

Pada 1 Oktober tahun 1965 setelah peristiwa G-30-S/PKI, dikarenakan Jendral Ahmad Yani tewas terbunuh oleh PKI, maka Soeharto mengambil alih kepimpinan Angkatan Darat sebagai panglima sekaligus sebagai Pangkopkamtib atas perintah Presiden Soekarno. Selanjutnya ia mengendalikan keadaan Indonesia yang kacau karena PKI. Puncak karier militernya, ia menerima “Supersemar” pada Maret 1966 yang isinya adalah tugas mengendalikan keamanan serta ketertiban negara.

Pasca peristiwa G-30-S/PKI, suasana politik dan pemerintahan di Indonesia semakin memburuk. Maret 1967 MPRS menunjuk Soeharto menjadi Presiden Ke-2 Republik Indonesia dan menggantikan Soekarno.

Masa Pemerintahan Orde Baru

Ketika Soeharto menduduki jabatan Presiden, masa pemerintahannya dikenal dengan nama Orde Baru. Kebijakan politik, mulai dari dalam hingga luar negeri diadakan perubahan. Di masa pemerintahannya, Indonesia kembali menjadi anggota PBB (28/09/1966). ia juga mengambil tindakan keras yakni penangkapan besar-besaran dan pengucilan terhadap semua orang-orang yang berhubungan dengan PKI, termasuk yang dianggap terkait PKI.

Moment tersebut menjadi peluang bagi oknum untuk melakukan penfitnahan terhadap oang-orang yang tak bersalah dan terkait PKI. Diberbagai daerah terjadi banyak fitnah, sehingga banyak orang yang tak terkait PKI pun ikut dijebloskan ke penjara, bahkan seluruh keluarga pihak yang tak bersalah ikut mendapatkan pengucilan.

Sanksi kriminal juga dilakukan untuk mengadili semua pihak yang dituding Soeharto sebagai golongan pemberontak. Pengadilan digelar, sebagian yang terlibat juga “dibuang” di Pulau Buru, dan ada pula sebagian yang dihabisi nyawanya secara massal di dalam hutan.

Soeharto di awal pemerintahannya mengusung program penyelamatan ekonomi, terutama rehabilitasi dan stabilisasi ekonomi dengan mengendalikan inflasi supaya harga barang-barang tak semakin melonjak, serta melakukan perbaikan sarana prasarana ekonomi. Juli tahun 1968, kebijakan ekonomi pemerintah difokuskan pada pengendalian ketat terhadap harga sandang dan pangan, termasuk kurs valas.

Setelah itu pemerintahan Orde Baru melaksanakan gerakan pembangunan nasional yang merupakan upaya pembangunan berkesinambungan seluruh aspek hidup masyarakat dan Negara. Pada masa pemerintahan orde baru, ia menjalankan kebijakan monoton selama 32 tahun tidak ada perubahan signifikan

Soeharto mengalami keterpurukan dalam karier politiknya di tahun 1998. Terjadi demonstrasi besar-besaran karena ketidakpuasan rakyat, hal tersebut menjadi masa kelam beliau. Stabilitas ekonomi dan politik sangat bergejolak. Setelah 32 tahun menguasai kursi Presiden, pada akhirnya pak Harto membacakan pidato data sgp pengunduran diri tanggal 21 Mei tahun 1998. Jatuhnya Presiden ke-2 RI menjadi awal bagi masa reformasi Indonesia.