Biografi Presiden Ke-4 KH. Abdurrahman Wahid

Memiliki nama lengkap KH. Abdurrahman Wahid, yang biasa dipanggil Gus Dur. Beliau adalah mantan Presiden ke-4 Indonesia yang menggantikan posisi BJ Habibie, setelah dipilih oleh MPR dari hasil Pemilu pada tahun 1999. Gus Dur mulai menjabat sebagai Presiden RI sejak 20 Oktober tahun 1999 dan berakhir tahun 2001. Abdurrahman Wahid wafat pada hari Rabu tanggal 30 Desember tahun 2009 di RSCM, Jakarta karena komplikasi penyakit jantung dan ginjal.

Gus Dur menikahi wanita bernama Sinta Nuriyah. Dari pernikahan mereka dikaruniai 4 anak perempuan yaitu : Zanubba Ariffah Chafsoh (Yenny), Alissa Qotrunnada, Inayah Wulandari dan Anita Hayatunnufus. Anak Gur Dur, Yenny aktif dalam dunia politik dan tergabung dalam partai ayahnya yakni PKB sekaligus ia menjadi Direktur The Wahid Institute.

Masa Muda Gus Dur

KH. Abdurrahman Wahid lahir di Jombang pada 4 Agustus tahun 1940. Ayahnya bernama KH. A. Wahid Hasyim, sedangkan ibunya bernama Ny. Hj. Sholehah. Gus Dur di masa kecil belajar kepada sang kakek yaitu K.H. Hasyim Asy’ari. Pada ayahnya pindah tinggal di Jakarta, selain belajar formal, Gus Dur juga les privat mempelajari Bahasa Belanda.

Menjelang kelulusan Sekolah Dasar, ia memenangkan perlombaan karya tulis se-wilayah Jakarta. Pengalaman ini memperlihatkan Gus Dur mampu menuangkan ide/gagasannya dalam tulisan, sehingga wajar bila kemudian tulisan-tulisan karya Gus Dur menghiasai banyak media massa. Setelah lulus SD, Gus Dur melanjutkan sekolah ke SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sekaligus mempelajari ilmu agama di pesantren di Krapyak tetapi tak lama.

Ketika sekolah di SMEP, hobi membacanya mendapat tempat dan didorong gurunya agar mahir berbahasa Inggris. Banyak buku-buku dengan bahasa Inggris yang dilahap oleh Gur Dur di masa remajanya. Kemudian untuk meningkatan bahasa Ingrisnya dan sekaligus menggali informasi, ia juga aktif mendengar siaran radio BBC London dan Voice of America.

Mengetahui Gus Dur cukup mahir berbahasa Inggis, salah seorang guru SMEP-nya yakni Pak Sumatri (Anggota Partai Komunis) memberikan buku Lenin berjudul ‘What is To Be Done’ kepada Gus Dur. Setamatnya dari SMEP, Abdurrahman Wahid remaja melanjutkan belajar di Pesantren asuhan K.H. Chudhari di Tegalrejo, Kota Magelang. Kyai Chudhari yang memperkenalkan ritus-ritus sufi serta menanamkan ritual mistik kepada Gus Dur.

Setelah menghabiskan waktu 2 tahun di Tegalrejo, akhirnya Gus Dur kembali ke Kota Jombang, lalu tinggal di sebuah Pesantren milik pamannya. Ia mendapatkan pekerjaan sebagai guru sekaligus menjadi wartawan untuk Majalah Budaya Jaya dan Horizon.

Ketika umur 22 tahun, ia melanjutkan studi ke Mesir tetapi tidak menyelesaikannya. Ia sempat daftar sbobet dan merasa kecewa sebab tidak bisa langsung masuk ke Universitas al-Azhar, karena harus menjalani pembelajaran dulu di Aliyah. Di sekolah tersebut ia bosan, sebab harus mengulang pelajaran yang sudah ia tempuh di Indonesia.

Tahun 1966, Abdurrahman Wahid pindah ke Negara Irak yang kala itu modern. Gus Dur
masuk ke Universitas Bagdad sampai tahun 1970. Di luar urusan kampus, ia rajin berkunjung ke makam-makam keramat wali, Ia juga mendalami ajaran Junaid al-Baghdadi, pendiri tasawuf. Di Irak, Gus Dur mendapatkan sumber spiritualitasnya.

Selepas studinya di Irak, Gus Dur berkeinginan melanjutkan studi ke Eropa. Tetapi persyaratan menguasai bahasa Hebraw, Yunani dan Jerman tidak bisa dipenuhinya. Di Belanda ia melanjutkan pendidikan di kampus Universitas Leiden, tapi ia kecewa sebab pendidikannya di Irak kurang diakui. Gus Dur pergi ke Prancis dan Jerman sebelum ia kembali ke tanah air. Pada tahun 1971, Gus Dur kembali pulang ke Jawa dan memulai perjalanan kariernya.

Di Jakarta, Gus Dur bergabung dengan LP3ES, organisasi yang dihuni intelektual muslim yang progresif serta sosial demokrat. Abdurrahman Wahid meneruskan karir jurnalis-nya dengan menulis untuk harian Kompas dan majalah Tempo. Ia mulai mengembangkan reputasinya sebagai seorang komentator sosial.

Pengalaman Politik Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid mendapatkan pengalaman pertamanya di dunia politik ketika pemilu legislatif tahun1982. Kala itu, ia berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan. Ketika Musyawarah Nasional Nahdatul Ulama tahun 1984, ia dinominasikan menjadi ketua PBNU. Terpilihnya Gus Dur dilirik positif oleh Presiden Soeharto karena penerimaan Gus Dur terhadap Pancasila sekaligus moderatnya membuat pemerintah menyukainya, hingga ia masuk dalam partai Golkar.

Karena Gus Dur terlalu kritis, hal itu merenggangkan hubungannya dengan orang-orang Golkar dan Presiden Soeharto. Juli tahun 1998, Gus Dur mendirikan partai baru yakni PKB untuk melawan partai Golkar dalam Pemilu. Tanggal 20 Oktober tahun 1999, MPR memilih presiden yang baru dan Abdurrahman Wahid akhirnya terpilih menjadi Presiden RI ke-4 dengan perolehan 373 suara, dan wakilnya Megawati hanya memperoleh 313 suara.

Pada tanggal 23 Juli tahun 2001, lembaga MPR resmi memakzulkan Abdurrahman Wahid dan menggantinya dengan Megawati. Pada Pemilu 2004, partai PKB mengusung Gus Dur lagi menjadi calon presiden. Namun ia gagal dalam pemeriksaan medis sehingga KPU menolaknya sebagai kandidat presiden.