Presiden Kedua Republik Indonesia, Soeharto

Soeharto

Jenderal Besar TNI (Purn.) H. M. Soeharto lahir di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni tahun 1921. Presiden ke-2 Republik Indonesia ini wafat di Jakarta pada tanggal 27 Januari tahun 2008. Beliau meninggal di umur 87 tahun sesudah dirawat di RSPP Jakarta.

Masa Muda Soeharto

Orang tuanya bernama Kertosudiro (ayah) dan Sukirah (ibu). Ayah beliau merupakan pembantu lurah di bidang pengairan persawahan sekaligus petani. Ketika berumur 8 tahun, Soeharto mulai mengenyam bangku sekolahPada awalnya ia bersekolah di SD (Sekolah Desa) Puluhan Godean, kemudian pindah ke SD (Sekolah Desa) Pedes karena keluarganya pindah tempat tinggal ke Kemusuk.

Setelah itu, ia bersekolah di Wuryantoro dan dititipkan tinggal bersama mantri Tani bernama Prawirohardjo yang menikahi adik perempuannya Soeharto. Cita-citanya sejak kecil untuk menjadi tentara diusahakan dengan melanjutkan pendidikan ke sekolah militer. Tahun 1941 saat Sekolah Bintara, Jawa Tengah, ia terpilih menjadi Prajurit Teladan. Tanggal 5 bulan Oktober tahun 1945, ia resmi diangkat sebagai anggota TNI.

Pernikahan

Di usia 26 tahun Soeharto menikahi putrinya seorang Mangkunegaran, bernama Siti Hartinah (Ibu Tien Soeharto) yang pada saat itu ibu Tien berusia 24 tahun. Mereka menikah pada 27 Desember tahun 1947. Dari pernikahan mereka dikarunia 6 orang anak yakni Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Masa Kemiliteran

Untuk merintis kariernya di kemiliteran, Soeharto harus menempuh jalan panjang dengan memulainya dari pangkat sersan di satuan tentara KNIL. Kemudian ia menjadi Komandan PETA di masa penjajahan Jepang. Selanjutnya ia menjabat komandan resimen dengan pangkat mayor dan kemudian dipercaya sebagai komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Sejarah Indonesia tak bisa lepas dari peristiwa Serangan Umum tanggal 1 Maret tahun 1949, kala itu merupakan peristiwa penting dalam catatan sejarah bangsa. Banyak versi sejarah mengatakan bahwa Soeharto berperan ketika usaha merebut Yogyakarta kembali yang pada waktu itu menjadi Ibukota RI. Pada 1 Maret tersebut, dalam kepemimpinan Soeharto Yogyakarta berhasil direbut kembali dari cengkraman para penjajah Belanda.

Beliau juga pernah menjadi pengawal bagi Panglima Besar Jenderal Sudirman. Sedangkan dalam operasi militer pembebasan Irian Barat yang saat itu tangan Belanda, beliau menjabat sebagai panglima Mandala dan dipusatkan di Kota Makassar.

Peristiwa G-30-S/PKI

Pada 1 Oktober tahun 1965 setelah peristiwa G-30-S/PKI, dikarenakan Jendral Ahmad Yani tewas terbunuh oleh PKI, maka Soeharto mengambil alih kepimpinan Angkatan Darat sebagai panglima sekaligus sebagai Pangkopkamtib atas perintah Presiden Soekarno. Selanjutnya ia mengendalikan keadaan Indonesia yang kacau karena PKI. Puncak karier militernya, ia menerima “Supersemar” pada Maret 1966 yang isinya adalah tugas mengendalikan keamanan serta ketertiban negara.

Pasca peristiwa G-30-S/PKI, suasana politik dan pemerintahan di Indonesia semakin memburuk. Maret 1967 MPRS menunjuk Soeharto menjadi Presiden Ke-2 Republik Indonesia dan menggantikan Soekarno.

Masa Pemerintahan Orde Baru

Ketika Soeharto menduduki jabatan Presiden, masa pemerintahannya dikenal dengan nama Orde Baru. Kebijakan politik, mulai dari dalam hingga luar negeri diadakan perubahan. Di masa pemerintahannya, Indonesia kembali menjadi anggota PBB (28/09/1966). ia juga mengambil tindakan keras yakni penangkapan besar-besaran dan pengucilan terhadap semua orang-orang yang berhubungan dengan PKI, termasuk yang dianggap terkait PKI.

Moment tersebut menjadi peluang bagi oknum untuk melakukan penfitnahan terhadap oang-orang yang tak bersalah dan terkait PKI. Diberbagai daerah terjadi banyak fitnah, sehingga banyak orang yang tak terkait PKI pun ikut dijebloskan ke penjara, bahkan seluruh keluarga pihak yang tak bersalah ikut mendapatkan pengucilan.

Sanksi kriminal juga dilakukan untuk mengadili semua pihak yang dituding Soeharto sebagai golongan pemberontak. Pengadilan digelar, sebagian yang terlibat juga “dibuang” di Pulau Buru, dan ada pula sebagian yang dihabisi nyawanya secara massal di dalam hutan.

Soeharto di awal pemerintahannya mengusung program penyelamatan ekonomi, terutama rehabilitasi dan stabilisasi ekonomi dengan mengendalikan inflasi supaya harga barang-barang tak semakin melonjak, serta melakukan perbaikan sarana prasarana ekonomi. Juli tahun 1968, kebijakan ekonomi pemerintah difokuskan pada pengendalian ketat terhadap harga sandang dan pangan, termasuk kurs valas.

Setelah itu pemerintahan Orde Baru melaksanakan gerakan pembangunan nasional yang merupakan upaya pembangunan berkesinambungan seluruh aspek hidup masyarakat dan Negara. Pada masa pemerintahan orde baru, ia menjalankan kebijakan monoton selama 32 tahun tidak ada perubahan signifikan

Soeharto mengalami keterpurukan dalam karier politiknya di tahun 1998. Terjadi demonstrasi besar-besaran karena ketidakpuasan rakyat, hal tersebut menjadi masa kelam beliau. Stabilitas ekonomi dan politik sangat bergejolak. Setelah 32 tahun menguasai kursi Presiden, pada akhirnya pak Harto membacakan pidato data sgp pengunduran diri tanggal 21 Mei tahun 1998. Jatuhnya Presiden ke-2 RI menjadi awal bagi masa reformasi Indonesia.

Biografi B.J Habibie Presiden Ke-3 Sekaligus Inspirator

B.J Habibie

B.J Habibie dengan nama lengkap Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie, merupakan salah seorang tokoh yang menjadi kebanggaan kebanyakan orang Indonesia. Habibie tak hanya dikenal sebagai salah seorang anak bangsa yang pintar dan ahli dalam pembuatan pesawat terbang, namanya juga akan tetap dikenal dari generasi ke generasi karena tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai salah satu mantan presiden RI, tepatnya Prsiden ke-3 Republik Indonesia.

Masa Muda B.J Habibie

Habibie lahir pada 25 Juni tahun 1936 di Kota Parepare, Provinsi Sulawesi Selatan. Beliau lahir dari ayah bernama Alwi Abdul Jalil Habibie dan ibu bernama RA. Tuti Marini Puspowardojo. B.J Habibie adalah anak ke-4 dan memiliki 8 orang saudara Kandung antara lain : Junus Effendi Habibie, Alwini Karsum Habibie, Satoto Mohammad Duhri Habibie, Sri Sulaksmi Habibie, Sri Rahayu Fatima Habibie, Sri Rejeki Habibie, Ali Buntarman Suyatim Abdurrahman Habibie.

Habibie muda mempunyai hobi membaca dan menunggang kuda. Sejak Sekolah Dasar, prestasi akademisnya sudah menonjol dibandingkan teman-temannya. Di usia 14 tahun, Habibie harus kehilangan ayahnya karena mengalami serangan jantung di saat sedang melaksanakan shalat Isya.

Sepeninggal ayahnya, ibunya Habibie menjual kendaraan dan rumahnya lalu pindah ke Kota Bandung. Ibunya menjadi tulang punggung untuk membiayai hidup anak-anaknya. Prestasi Habibie di masa SMA sangat terlihat terutama dalam mata pelajaran eksakta.

Lulus dari SMA di Kota Bandung, B.J Habibie melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung. Namun sebelum ia menyelesaikan kuliahnya di ITB, Habibie mendapatkan beasiswa Menteri Pendidikan hingga ia melanjutkan kuliah ke Jerman. Bung Karno yang kala itu masih menjadi presiden berpesan mengenai penguasaan teknologi berwawasan nasional dan penguasaan teknologi maritim dan dirgantara.

Kala itu pemerintahan Indonesia yang berada di bawah pimpinan Presiden Soekarno sedang gencar membiayai banyak siswa Indonesia yang pintar untuk menimba ilmu ke Jerman, dan Habibie termasuk dalam rombongan ke-2 diantara ratusan anak Indonesia yang dikirim ke beberapa negara.

Di Jerman, B.J Habibie memilih mendalami ilmu Teknik Penerbangan spesialisasi perancangan pesawat terbang Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule, karena sejak muda Habibie tertarik dengan ide Presiden Soekarno mengenai ‘how to build commercial aircraft’ untuk rakyat Indonesia. Dari sanalah muncul perusahaan-perusahaan yang dianggap strategis seperti PT PAL dan IPTN.

B.J Habibie memperoleh gelar Ing berpredikat Cumlaude dari Technische Hochschule tahun 1960. Pada tahun 1965 gelar Dr. Ingenieur summa cumlaude (Nilai sangat sempurna, rata-rata 10), berhasil didapatkan Habibie dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachen.

Rumah Tangga B.J Habibie

Habibie menikahi wanita lulusan fakultas kedokteran bernama Hasri Ainun Besari. Mereka berdua pernah satu sekolah. Habibie dan Ainun menjalani kehidupan rumah tangga di Jerman. Mereka dikaruniai 2 putra yang diberi nama Thareq Kemal dan Ilham Akbar. Di awal membangun dewa togel rumah tangga, terlebih lagi di Negeri orang dan jauh dari keluarga besar, tentunya tidak mudah.

Meskipun Habibie telah bekerja di Talbot (sebuah perusahaan industri angkutan kereta api di Jerman), rumah tangga mereka tetap harus banyak berhemat dalam rangka menabung untuk biaya melahirkan dan Habibie juga melanjutkan studinya untuk mendapatkan gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachen.

Kemudian B.J Habibie bekerja di salah satu perusahaan pesawat terbang MBB Gmbh di Jerman, sampai akhirnya ia memenuhi permintaan Presiden Soeharto agar kembali pulang ke Indonesia dalam rangka membangun Negara.

Penghargaan Habibie

Kejeniusan serta prestasi menjadikan Habibie seorang yang diakui di beberapa lembaga internasional dengan penghargaan diantaranya :

  1. Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Sebuah Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) di Jerman
  2. The Royal Aeronautical Society London di Inggris
  3. The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences di Swedia
  4. The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace di Prancis
  5. The US Academy of Engineering di Amerika Serikat
  6. Penghargaan tertinggi ITB (Institut Teknologi Bandung)
  7. Selain itu, beberapa penghargaan bergensi juga diperoleh B.J Habibie diantaranya :
  8. Award von Karman dan Edward Warner Award, yang setara Nobel.
  9. Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.

Karir B.J Habibie di Indonesia

Selama 20 tahun Habibie menjabat sebagai Menteri Negara Ristek dan memimpin 10 BUMN yang merupakan Industri Strategis. Tahun 1995, Habibie memimpin pembuatan sebuah pesawat yang diberi nama N250 Gatot Kaca. Pesawat tersebut adalah pesawat pertama buatan anak Indonesia.

Pesawat rancangan Habibie bukanlah pesawat yang dirancang asal-asalan. Pesawat tersebut didesain tanpa ‘Dutch Roll’ (oleng). Teknologi pesawat yang dipakai kala itu tergolong canggih. Habibie memerlukan 5 tahun melengkapi desain. N250 Gatot Kaca satu-satunya pesawat tipe turboprop yang menggunakan teknologi Fly by Wire. Menurut penjelasan Habibie N250 Gatot Kaca telah terbang selama 900 jam dan hanya selangkah lagi bisa masuk dalam sertifikasi Federal Aviation Administration.

Bahkan PT. IPTN membangun pabrik khusus pesawat N250 di kawasan Eropa dan Amerika agar mempermudah pemasaran di negara-negara kawasan tersebut, meski kala itu banyak mata yang meremehkan pesawat Indonesia, termasuk sebagian orang dari dalam negeri sendiri.

Presiden Soeharto meletakan jabatan presidennya dan menyerakan pada Habibie. B.J Habibie sempat menjabat Presiden RI ke-3 dalam kurun waktu lebih dari 1 tahun, mulai l 21 mei tahun 1998 sampai 20 Oktober tahun 1999.

Biografi Presiden Ke-4 KH. Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid

Memiliki nama lengkap KH. Abdurrahman Wahid, yang biasa dipanggil Gus Dur. Beliau adalah mantan Presiden ke-4 Indonesia yang menggantikan posisi BJ Habibie, setelah dipilih oleh MPR dari hasil Pemilu pada tahun 1999. Gus Dur mulai menjabat sebagai Presiden RI sejak 20 Oktober tahun 1999 dan berakhir tahun 2001. Abdurrahman Wahid wafat pada hari Rabu tanggal 30 Desember tahun 2009 di RSCM, Jakarta karena komplikasi penyakit jantung dan ginjal.

Gus Dur menikahi wanita bernama Sinta Nuriyah. Dari pernikahan mereka dikaruniai 4 anak perempuan yaitu : Zanubba Ariffah Chafsoh (Yenny), Alissa Qotrunnada, Inayah Wulandari dan Anita Hayatunnufus. Anak Gur Dur, Yenny aktif dalam dunia politik dan tergabung dalam partai ayahnya yakni PKB sekaligus ia menjadi Direktur The Wahid Institute.

Masa Muda Gus Dur

KH. Abdurrahman Wahid lahir di Jombang pada 4 Agustus tahun 1940. Ayahnya bernama KH. A. Wahid Hasyim, sedangkan ibunya bernama Ny. Hj. Sholehah. Gus Dur di masa kecil belajar kepada sang kakek yaitu K.H. Hasyim Asy’ari. Pada ayahnya pindah tinggal di Jakarta, selain belajar formal, Gus Dur juga les privat mempelajari Bahasa Belanda.

Menjelang kelulusan Sekolah Dasar, ia memenangkan perlombaan karya tulis se-wilayah Jakarta. Pengalaman ini memperlihatkan Gus Dur mampu menuangkan ide/gagasannya dalam tulisan, sehingga wajar bila kemudian tulisan-tulisan karya Gus Dur menghiasai banyak media massa. Setelah lulus SD, Gus Dur melanjutkan sekolah ke SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sekaligus mempelajari ilmu agama di pesantren di Krapyak tetapi tak lama.

Ketika sekolah di SMEP, hobi membacanya mendapat tempat dan didorong gurunya agar mahir berbahasa Inggris. Banyak buku-buku dengan bahasa Inggris yang dilahap oleh Gur Dur di masa remajanya. Kemudian untuk meningkatan bahasa Ingrisnya dan sekaligus menggali informasi, ia juga aktif mendengar siaran radio BBC London dan Voice of America.

Mengetahui Gus Dur cukup mahir berbahasa Inggis, salah seorang guru SMEP-nya yakni Pak Sumatri (Anggota Partai Komunis) memberikan buku Lenin berjudul ‘What is To Be Done’ kepada Gus Dur. Setamatnya dari SMEP, Abdurrahman Wahid remaja melanjutkan belajar di Pesantren asuhan K.H. Chudhari di Tegalrejo, Kota Magelang. Kyai Chudhari yang memperkenalkan ritus-ritus sufi serta menanamkan ritual mistik kepada Gus Dur.

Setelah menghabiskan waktu 2 tahun di Tegalrejo, akhirnya Gus Dur kembali ke Kota Jombang, lalu tinggal di sebuah Pesantren milik pamannya. Ia mendapatkan pekerjaan sebagai guru sekaligus menjadi wartawan untuk Majalah Budaya Jaya dan Horizon.

Ketika umur 22 tahun, ia melanjutkan studi ke Mesir tetapi tidak menyelesaikannya. Ia sempat daftar sbobet dan merasa kecewa sebab tidak bisa langsung masuk ke Universitas al-Azhar, karena harus menjalani pembelajaran dulu di Aliyah. Di sekolah tersebut ia bosan, sebab harus mengulang pelajaran yang sudah ia tempuh di Indonesia.

Tahun 1966, Abdurrahman Wahid pindah ke Negara Irak yang kala itu modern. Gus Dur
masuk ke Universitas Bagdad sampai tahun 1970. Di luar urusan kampus, ia rajin berkunjung ke makam-makam keramat wali, Ia juga mendalami ajaran Junaid al-Baghdadi, pendiri tasawuf. Di Irak, Gus Dur mendapatkan sumber spiritualitasnya.

Selepas studinya di Irak, Gus Dur berkeinginan melanjutkan studi ke Eropa. Tetapi persyaratan menguasai bahasa Hebraw, Yunani dan Jerman tidak bisa dipenuhinya. Di Belanda ia melanjutkan pendidikan di kampus Universitas Leiden, tapi ia kecewa sebab pendidikannya di Irak kurang diakui. Gus Dur pergi ke Prancis dan Jerman sebelum ia kembali ke tanah air. Pada tahun 1971, Gus Dur kembali pulang ke Jawa dan memulai perjalanan kariernya.

Di Jakarta, Gus Dur bergabung dengan LP3ES, organisasi yang dihuni intelektual muslim yang progresif serta sosial demokrat. Abdurrahman Wahid meneruskan karir jurnalis-nya dengan menulis untuk harian Kompas dan majalah Tempo. Ia mulai mengembangkan reputasinya sebagai seorang komentator sosial.

Pengalaman Politik Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid mendapatkan pengalaman pertamanya di dunia politik ketika pemilu legislatif tahun1982. Kala itu, ia berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan. Ketika Musyawarah Nasional Nahdatul Ulama tahun 1984, ia dinominasikan menjadi ketua PBNU. Terpilihnya Gus Dur dilirik positif oleh Presiden Soeharto karena penerimaan Gus Dur terhadap Pancasila sekaligus moderatnya membuat pemerintah menyukainya, hingga ia masuk dalam partai Golkar.

Karena Gus Dur terlalu kritis, hal itu merenggangkan hubungannya dengan orang-orang Golkar dan Presiden Soeharto. Juli tahun 1998, Gus Dur mendirikan partai baru yakni PKB untuk melawan partai Golkar dalam Pemilu. Tanggal 20 Oktober tahun 1999, MPR memilih presiden yang baru dan Abdurrahman Wahid akhirnya terpilih menjadi Presiden RI ke-4 dengan perolehan 373 suara, dan wakilnya Megawati hanya memperoleh 313 suara.

Pada tanggal 23 Juli tahun 2001, lembaga MPR resmi memakzulkan Abdurrahman Wahid dan menggantinya dengan Megawati. Pada Pemilu 2004, partai PKB mengusung Gus Dur lagi menjadi calon presiden. Namun ia gagal dalam pemeriksaan medis sehingga KPU menolaknya sebagai kandidat presiden.

Biografi Pesiden Soekarno

Biografi Pesiden Soekarno

Memiliki nama lahir Koesno Sosrodiharjo, anak dari pasangan suami-istri Raden Soekemi Sosrodihardjo dengan Ida Ayu Nyoman Rai. Ia lahir di Kota Pahlawan, Surabaya tanggal 6 Juni tahun 1901. Dikarenakan sering kali mengalami sakit di masa kecilnya, orangtuanya berinisiatif mengganti nama jadi Soekarno. Presiden Soekarno mempunyai saudara kandung wanita bernama Sukarmini. Ayahnya Soekarno adalah seorang guru yang mengajar di Bali, sedangkan ibunya adalah bangsawan Bali.

Masa Kecil Presiden Soekarno

Semasa kecilnya Presiden Soekarno, hanya sebentar menghabiskan waktu bersama orangtuanya. Beliau lebih lama tinggal di Tulungagung, Jawa Timur bersama Kakeknya yakni Raden Hardjoko. Kemudian Soekarno dimasukan ke sekolah tempat ayahnya mengajar, selanjutnya dimasukan ke Europeesche Lagere School (ELS) dengan tujuan agar lebih mudah memasuki sekolah HBS (Hogere Burger School) Surabaya.

Soekarno tinggal di rumah H.O.S (Haji Oemar Said Tjokroaminoto) yang merupakan seorang teman dari ayahnya Soekarno. Haji Oemar juga tokoh terkenal pendiri SI (Serikat Islam). Dari rumah Cokroaminoto, ia mulai mempelajari politik dan belajar berpidato serta berlatih di kamarnya di hadapan cermin.

Sesudah lulus dari HBS, Soekarno pindah ke Kota Bandung untuk melanjutkan studi ke Technische Hoogeschool (THS) yang saat ini menjadi ITB. Presiden Soekarno mengambil jurusan kuliah teknik sipil dan tanggal 25 Mei tahun 1926 mendapatkan dengan gelar insinyur-nya.

Masa Perjuangan Presiden Soekarno

Setelah lulus THS, Soekarno membuka Biro Insinyur bersama Ir.Anwari pada tahun 1926. Mereka mengerjakan desain bangunan. Kemudian beliau mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) tanggal 4 Juli tahun 1927. Berawal dari partai PNI, tujuan beliau menginginkan bangsa Indonesia merdeka dan terlepas dari penjajahan Belanda.

Desember 1929, saat Soekarno berada di Yogyakarta, ia ditangkap Belanda lalu dimasukan ke Banceuy (salah satu penjara di Bandung). Kemudian dipindahkan ke Sukamiskin. Selama dalam penjara Sukamiskin, Soekarno membuat sebuah Pledoi fenomenal yakni Indonesia Menggugat. Tanggal 31 Desember tahun 1931, Soekarno dibebaskan. Selanjutnya tahun 1933, ia bergabung dalam partai pecahan PNI yakni Partindo (Partai Indonesia).

Agustus 1933, Soekarno kembali ditangkap Belanda lalu diasingkan ke Flores. Tahun 1938, Soekarno diasingkan ke Bengkulu. Ketika di Bengkulu, Soekarno bertemu dengan Fatmawati dan Mohammad Hatta. Tahun 1942, berakhirnya kekuasaan Belanda dan digantikan oleh Jepang. Diawal masa penjajahannya di Indonesia, Jepang tak memperhatikan tokoh-tokoh penting Indonesia, dan tahun 1943 penjajah Jepang baru menyadari betapa penting para tokoh-tokoh pergerakan ini.

Selanjutnya Jepang memanfaatkan para tokoh pergerakan yang salah satunya ialah Ir. Soekarno, dengan tujuan menarik perhatian masyarakat Indonesia pada propraganda Jepang. Pada Agustus tahun 1945, Marsekal Terauchi menyatakan sudah waktunya Indonesia merdeka.

Pada 16 Agustus tahun 1945 para pemuda PETA menuntut Soekarno dengan Hatta menyegerakan proklamasi Kemerdekaan RI. Dan kebetulan, kala itu Indonesia dalam masa vakum penjajahan karena Jepang di Bom Atom oleh Amerika, sedangkan pasukan sekutu juga belum tiba.

Di hari Jum’at, 17 Agustus tahun 1945, diumumkanlah proklamasi kemerdekaan. Pada 18 Agsutus tahun1945, Ir. Soekarno dan Hatta diangkat PPKI sebagai Presiden dan Wakilnya. Pada 29 Agustus tahun 1945, pengangkatan Presiden Soekarno beserta wakilnya dikukuhkan KNIP.

Tahun-tahun berikutnya sekutu terang-terangan tak mengakui kemerdekaan RI dan berusaha melakukan penjajahan kembali, dengan melakukan berbagai gencatan senjata, namun tak membuat pejuang Indonesia menyerah. Peperangan pecah di berbagai kota di Indonesia, hingga poker online terpercaya Indonesia resmi mengadukan persoalan agresi militrer penjajah Belanda kepada PBB, sebab serangan itu dianggap melanggar perjanjian internasional (perjanjian Linggar Jati).

Meski sudah dilaporkan pada PBB, tidak membuat Belanda berhenti melakukan agresinya. Pada Juli tahun 1947, Australia dan India meminta agar masalah agresi Belanda dimasukan agenda rapat PBB (Dewan Keamanan) dan akhirnya dikeluarkanl Resolusi No 27 (1/08/1947) yang isinya merupakan seruan penghentian konflik bersenjata. Atas tekanan PBB, 15 Agustus tahun 1947 pemerintah Belanda menerima resolusi lalu menhentikan pertempuran.

Pada 1960 terjadi pergolakan politik di Indonesia, karena adanya peristiwa G30-S/PKI. Krisis politik memicu Massa dari KAMI serta KAPI melakukan demonstrasi serta menyampaikan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) yang isinya menuntut pembubaran PKI. Namun Presiden Soekarno menolak pembubaran PKI hingga melemahkan posisi Soekarno di dunia Politik.

Hari minggu, 21 Juni tahun 1970, Presiden Soekarno membacakan pidato pertanggungjawaban atas sikapnya, tetapi pidatonya ditolak MPRS dan akhirnya Februari tahun 1967 Soekarno menandatangani Penyerahan Kekuasaan Pemerintahan di Jakarta (Istana Merdeka).

Rumah Tangga Soekarno

Semasa kehidupannya, Soekarno menikah beberapa kali. Tercatat dalam sejarah pengeluaran sgp bahwa terdapat 9 wanita pernah menjadi istri Presiden Soekarno, antara lain :

  • Oetari Tjokroaminoto tahun 1920-1923
  • Inggit Garnasih tahun 1923-1943
  • Fatmawati tahun 1943-1960
  • Hartini tahun 1954-1970
  • Kartini Manoppo tahun 1959-1968
  • Ratna Sari Dewi tahun 1962-1970
  • Haryati tahun 1963-1966
  • Yurike Sanger tahun 1964-1968
  • Heldy Djafar tahun 1966-1969

Wafatnya Soekarno

Minggu, 21 Juni tahun 1970 di Jakarta Presiden Soekarno menghembuskan nafas terakhinya di RSPAD Gatot Subroto. Kemudian beliau dimakamkan di Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Makamnya berada dekat dengan makam ibunya. Pemerintah menetapkan hari berkabung tujuh hari setelah meninggalnya sang tokoh proklamator.

Biografi Syafruddin Prawiranegara

Biografi Syafruddin Prawiranegara

Syafruddin Prawiranegara dalam ejaan lama yaitu Sjafruddin Prawiranegara. Ia merupakan salah satu pejuang di masa kemerdekaan RI. Syafruddin pernah pula menjabat sebagai Ketua/Presiden PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) di saat pemerintahan RI yang bermarkas di Yogyakarta sedang jatuh ketika Agresi Militer penjajah Belanda II tanggal 19 bulan Desember tahun 1948.

Sebelum Sjafruddin terlibat menjadi salah satu tokoh nasional, ia pernah bekerja menjadi pegawai di radio swasta. Selain itu, pernah menjadi pegawai di departemen Keuangan colonial Belanda, serta menjadi pegawai di departemen keuangan penjajah Jepang.

Masa Muda Syafruddin Prawiranegara

kecil yaitu Kuding yang diambil dari Udin pada Syariffudin. Pria yang memiliki darah Sunda dari ibunya dan Sunda-Minangkabau dari ayahnya. Ayah Syafruddin adalah seorang jaksa yang cukup merakyat, lalu colonial Belanda membuang ayahnya Syafruddin ke Provinsi Jawa Timur.

Buyutnya Syariffudin dari pihak ayahnya adalah Sutan Alam Intan yang merupakan keturunan raja Pagaruyung – Sumatera Barat. Dahulu buyutnya dibuang ke Provinsi Banten disebabkan keterlibatannya dalam Perang Padri.

Syafruddin pernah menempuh pendidikan di ELS pada tahun 1925. Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke MULO Madiun tahun 1928, lalu ke AMS Bandung tahun 1931. Pendidikan tinggi Syafruddin tahun 1939 diambil di Rechtshogeschool yakni Sekolah Tinggi Ilmu Hukum di Jakarta yang saat ini merupakan Fakultas Hukum di Univesitas Indonesia.

Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga mendapatkan gelar Meester in de Rechten, yang sekarang setara dengan gelar Magister Hukum. Sebelum terlibat sebagai tokoh nasional, Syafruddin Prawiranegara pernah bekerja sebagai pegawai radio swasta, pegawai di departemen Keuangan colonial Belanda, dan menjadi pegawai di departemen keuangan pada masa penjajahan Jepang.

Presiden PDRI selama 207 Hari

Setelah proklamsi Indonesia, Syafruddin di KNIP menjadi anggota yang tugasnya sebagai legislatif sebelum terbentuk DPR dan MPR. KNIP dengan kekuasaan legislatif-nya ikut menetapkan GBHN (Garis Besar Haluan Negara). Kemudian Syafrudin Prawiranegara diangkat menjadi Menteri Kemakmuran.

Pada 19 Desember tahun 1948, terjadi Agresi Militer II colonial Belanda terhadap Yogyakarta yang masa itu menjadi Ibu Kota dan menyebabkan tertangkapnya Presiden Sukarno. Sedangkan Mohammad Hatta yang saat itu menjadi Wakil Presiden, merasa cemas lalu mengirimkan telegram pada Menteri Kemakmuran yang sedang di Bukittinggi dalam rangka pembentukan Pemerintahan Darurat (PDRI).

Selain pada Syafruddin – Menteri Kemakmuran, Telegram juga dikirimkan pada LN Palar, dr Sudarsono, dan AA Maramis yang sedang berada di New Delhi dalam rangka pembentukan PDRI cadangan, bila usaha Syafruddin gagal di wilayah Sumatera Barat.

Setelah berdiskusi termasuk mengenai masalah hukum sebab tak ada mandat, akhirnya terbentuklah pemerintahan darurat yang dipimpin Syafrudin Prawiranegara dan wakilnya adalah TM Hasan. Atas usaha yang dilakukan Pemerintaha Darurat, maka Belanda terpaksa melakukan perundingan dengan Indonesia.

Perjanjian Roem Royen berhasil mengakhiri usaha Belanda, lalu Soekarno dibebaskan dan kembali ke D.I Yogyakarta. Juli 1949 sidang antara Presiden Sukarno dengan PDRI diadakan, lalu dilakukan serah terima untuk pengembalian mandat pemimpin negara ke tangan Soekarno.

Memegang Sejumlah Jabatan di pemerintahan

Setelah menyerahkan lagi kekuasaan Pemerintahan pada Soekarno, Syafrudin Prawiranegara menjabat Wakil PM (Perdana Menteri) tahun 1949, lalumenjadi Menteri Keuangan hingga tahun 1950. Maret 1950 Syafruddin melaksanakan pemotongan mata uang nilai 5 lebih hingga nilainya tersisa separuhnya. Kebijakan moneter poker online yang diambil Syafruddin banyak dikritik sehingga ia dijuluki Gunting Syafruddin

Setelah menyerahkan lagi kekuasaan Pemerintahan pada Soekarno, Syafrudin Prawiranegara menjabat Wakil PM (Perdana Menteri) tahun 1949, lalumenjadi Menteri Keuangan hingga tahun 1950. Maret 1950 Syafruddin melaksanakan pemotongan mata uang nilai 5 lebih hingga nilainya tersisa separuhnya. Kebijakan moneter yang diambil Syafruddin banyak dikritik sehingga ia dijuluki Gunting Syafruddin

Kemudian ia menjabat Gubernur BI yang pertama tahun 1951, dan Sebelumnya Syafruddin merupakan PresDir Javasche Bank, kemudian berubah jadi Bank Indonesia.

Masa Tua Syafruddin Prawiranegara

Tokoh nasional ini memilih berdakwah sebagai kesibukannya di masa tua. Akan tetapi, berkali-kali mantan anggota Partai Masyumi tersebut dilarang untuk naik mimbar. Juni 1985, Syafruddin diperiksa sehubungan isi khotbahnya di Tanjung Priok – Jakarta pada hari Idul Fitri di masjid Al-A’raf.

Dalam aktivitas dakwahnya, Syafrudin Prawiranegara pernah menjadi Ketua KMI (Korp Mubalig Indonesia). Kegiatan-kegiatan Syafruddin berkaitan dakwah, pendidikan dan keislaman. Ia sempat pula menyusun sebuah buku Sejarah mengenai Moneter yang dibantu Oei Beng To.

Rumah Tangga Syafruddin Prawiranegara

Syafruddin menikahi wanita berdarah Aceh yang bernama Tengku Halimah Syehabuddin. Ia dan istrinya memiliki 8 orang anak, kemudian memiliki sekitar 15 cucu. Seorang cucunya yang ke- 13 lahir di Negara Australia karena menjalani proses bayi tabung. Dan cucu Syafruddin merupakan bayi tabung yang pertama dari pasangan suami istri asal Indonesia tahun 1981.

Penghargaan Syafruddin Prawiranegara

Syafruddin Prawiranegara meninggal dunia di Jakarta, 15 Februari tahun 1989, di usia 77 tahun. Segala jasa-jasanya pada bangsa tentunya tak dipandang sebelah mata oleh Negara. Tahun 2011, Syafruddin mendapatkan anugerah gelar sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keppres No. 113/TK/2011.

Mengenal Lebih Dekat Sosok Joko Widodo

Jokowi

Menjelang pemilihan umum yang akan diselenggarakan pada tanggal 17 April 2019 nanti, nama Jokowi sering masuk dalam daftar trending topic di Indonesia. Banyak pendukung yang mengelukkan sang petahana kembali mengisi jabatan presiden periode 2019 hingga 2024 mendatang. Sebenarnya siapa sosok Joko Widodo yang begitu fenomenal dikalangan masyarakat Indonesia? Yuk, simak ulasan mengenai profil sang presiden Indonesia ke7 berikut!

Latar belakang kehidupan Jokowi

Jokowi lahir di Surakarta pada tanggal 21 Juni 1961 dari pasangan Widjiatno Notomihardjo dan Sujiatmi Notomihardjo. Lahir dari kalangan biasa tentu membuat Joko Widodo hidup dalam balutan kesederhanaan. Sebagai anak sulung laki-laki, Joko Widodo sudah merasakan pahit getir kehidupan.

Ia sudah terbiasa bekerja keras sejak masih kecil mulai menjadi kuli panggul, ojek payung dan berdagang demi mencukupi kebutuhan harian. Sang presiden juga terbiasa jalan kaki saat menempuh perjalanan ke sekolah.

Joko Widodo menempuh pendidikan di SD Negeri III Tirtoyoso dan melanjutkan ke jenjang SMP Negeri 1 Surakarta. Sempat menjadi polemik beberapa waktu terakhir mengenai ijazah SMA sang petahana. Ya, Jokowi lulus SMPP atau Sekolah Menengan Pembangunan Persiapan pada tahun 1980. SMPP akhirnya berubah menjadi SMA Negeri 6 Surakarta sejak tahun 1985 hingga saat ini. Ia mencoba masuk jurusan kehutanan di Universitas Gajah Mada.

Di bangku kuliah, Jokowi aktif mempelajari teknik pengolahan kayu hingga ia lulus kuliah pada tahun 1985. Ilmu yang didapat berhasil diimplementasikan seorang insinyur Joko Widodo hingga ia dikenal sebagai juragan mebel. Sebelumnya Joko Widodo sempat bekerja di PT Kraft Aceh sebagai salah satu BUMN Indonesia. Ia menikahi Iriana pada tanggal 24 Desember 1986 hingga memiliki tiga putra yaitu Gibran Rakabuming, Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangarep.

Tak ada segala sesuatu yang bisa digapai secara mudah termasuk perjuangan Jokowi hingga berhasil menjadi juragan mebel. Usaha kayu yang digelutinya pernah mengalami pasang surut. CV Rakabu yang didirikan pada tahun 1988 pernah hampir mengalami kebangkrutan hingga poker88 mendapatkan suntikan dana dari sang ibu. Seperti yang diketahui bahwa orangtua Joko Widodo merupakan pengusaha kayu.

Usaha kayu tersebut berhasil diekspor ke luar negeri sampai Mikl Rokmanan yang memberikan nama panggilan Jokowi. Berkat pria berkebangsaan Jerman itu pula yang membuat usaha mebel milik sang presiden mengibarkan bendera kesuksesan di luar negeri. Kejujuran dan kegigihan seorang Joko Widodo dalam membangun sebuah usaha memang patut diacungi jempol.

Jokowi terjun ke politik hingga sukses menjadi presiden Indonesia

Sang ayah merupakan seorang aktivis partai PDIP di era reformasi sebelum meninggal dunia pada tahun 2000. Jejak tersebut merupakan sebuah inspirasi yang membuat Joko Widodo tertarik terjun di bidang yang sama. Ia sukses menjadi walikota Solo pada tahun 2005 dan berhasil mengubah kota tersebut menjadi lebih baik. Tak heran kalau Joko Widodo didapuk menjadi walikota Solo periode selanjutnya.

Nama Jokowi juga populer setelah ia berhasil memenangkan pilkada Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada tahun 2012 lalu. Sang gubernur dikenal dengan ciri khas kegiatan blusukan itu pun mendapatkan mandate dari ketua umum PDIP, Megawati Soekarnoputri untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden 2014 dengan sosok cawapres Jusuf Kalla.

Nama Jokowi langsung melejit begitu ia terpilih sebagai presiden Republik Indonesia ketujuh. Ia menjabat sejak 20 Oktober 2014 bersama dengan Jusuf Kalla untuk memimpin dan membangun Indonesia. Program Nawacita pun diumumkan sebagai salah satu bagian penting yang tengah direalisasikan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Gaya kepemimpinan Jokowi yang pragmatis dan membumi membuat banyak orang jatuh cinta. Ia juga dikenal sebagai sosok presiden gaul dan pecinta musik heavy metal sejati.

Tak hanya rakyat Indonesia semata, nama Jokowi juga dikenal mancanegara sebagai sosok presiden yang sederhana. Ia sendiri pernah memenangkan penghargaan sebagai walikota terbaik ke-3 di dunia. Nama Joko Widodo semakin terkenal sebagai pemimpin bersih dan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan masyarakat Indonesia. Tak hanya penduduk di Pulau Jawa saja, sang presiden gencar membangun seluruh infrastruktur dari Sabang hingga Merauke.

Berkat kepemimpinan Jokowi dirasakan betul oleh warga negara yang tinggal di daerah pedalaman, terpencil dan perbatasan Indonesia. Pembangunan yang merata hingga pembuatan TransPapua yang begitu fenomenal. Terlepas dari semua konflik dan pro kontra, nama Joko Widodo akan tetap dikenang sebagai salah satu presiden Indonesia yang berasal dari kalangan rakyat biasa.

Tak mengherankan kalau Joko Widodo bersama KH Ma’ruf Amin memiliki elektabilitas cukup tinggi untuk memenangkan pemilihan umum presiden yang akan dilangsungkan pada 17 April 2019 melawan pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahudin Uno.

Ia merupakan sosok yang sederhana, bersih dan inspiratif hingga dicintai oleh rakyat Indonesia. Akankah Jokowi bisa menjadi presiden Indonesia periode 2019-2024 mendatang? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.